Authorized Distributor & Dealer Resmi
Senin–Jumat, 09.00–17.00 WIB
-
Phone: 0813-9009-8989
-
Email: sales@morojayateknik.com
Kebocoran gas jarang terlihat dan sering tidak tercium pada konsentrasi yang berbahaya. Hidrogen sulfida (H2S), misalnya, justru melumpuhkan indra penciuman pada konsentrasi tinggi. Karena itu gas detector bukan sekadar pelengkap K3, melainkan alat utama untuk memberi peringatan sebelum pekerja terpapar atau api menyala.
Panduan ini membahas enam hal yang perlu diputuskan sebelum membeli gas detector: jenis gas, bentuk alat, rentang ukur dan alarm, tinggi pemasangan, jumlah titik, serta perawatan.
1. Tentukan gas yang ingin dideteksi
Satu sensor hanya membaca satu gas atau satu kelompok gas. Mulailah dengan mendata bahan yang disimpan, diproses, atau dihasilkan di area kerja.
- Gas beracun: H2S di IPAL, septic tank, dan kilang; amonia (NH3) di cold storage dan pabrik pupuk; klorin (Cl2) di pengolahan air dan kolam renang; karbon monoksida (CO) di ruang boiler, genset, dan area pembakaran.
- Gas mudah terbakar: metana (CH4), LPG, dan uap pelarut di dapur industri, gudang bahan bakar, dan area produksi.
- Oksigen dan karbon dioksida: kekurangan O2 di ruang tertutup yang berisi nitrogen atau CO2, serta penumpukan CO2 di ruang fermentasi dan gudang es kering.
Prinsip kerja sensornya juga berbeda. Gas beracun umumnya dibaca sensor elektrokimia, gas mudah terbakar dengan sensor catalytic bead atau inframerah, sedangkan CO2 lazim memakai sensor inframerah NDIR. Waspadai cross-sensitivity: sebagian sensor ikut bereaksi terhadap gas lain, sehingga pembacaan bisa naik walau gas sasaran tidak ada.
2. Portable atau fixed?
Gas detector portable dibawa atau dijepit di pakaian pekerja. Cocok untuk inspeksi keliling, pekerjaan di dalam tangki atau saluran, dan petugas yang berpindah-pindah area. Ada yang membaca satu gas, seperti seri Bosean BH-90A, dan ada yang membaca beberapa gas sekaligus, seperti Bosean BH-4S 4 in 1 yang memantau O2, CO, H2S, dan gas mudah terbakar.
Fixed gas detector dipasang permanen di titik rawan bocor dan bekerja 24 jam. Detektor ini dihubungkan ke controller sehingga dapat menyalakan alarm, lampu strobo, kipas exhaust, atau menutup katup secara otomatis. Untuk area dengan gas mudah terbakar, pilih model explosion proof seperti Bosean BH-60 yang juga berperlindungan IP66.
Banyak lokasi membutuhkan keduanya: fixed detector sebagai penjaga area, portable sebagai pelindung pribadi saat pekerja masuk ke zona yang tidak terpantau.
3. Perhatikan rentang ukur dan setelan alarm
- Rentang ukur harus mencakup konsentrasi yang mungkin terjadi. Gas beracun biasanya diukur dalam ppm, gas mudah terbakar dalam %LEL (persentase dari batas bawah ledakan).
- Alarm bertingkat: minimal dua ambang, misalnya peringatan dini dan perintah evakuasi. Acuan ambangnya adalah Nilai Ambang Batas (NAB) dalam peraturan K3 lingkungan kerja yang berlaku serta prosedur internal perusahaan.
- Waktu respons (T90): makin cepat makin baik, terutama untuk gas yang berbahaya dalam hitungan menit.
- Bentuk peringatan: bunyi, lampu, dan getar. Di area bising, getar dan lampu sama pentingnya dengan bunyi.
4. Pasang di ketinggian yang tepat
Letak fixed gas detector ditentukan oleh berat jenis gas terhadap udara dan letak sumber kebocoran.
| Gas | Dibanding udara | Posisi sensor |
|---|---|---|
| Metana (CH4), amonia (NH3) | Lebih ringan | Dekat plafon, di atas sumber bocor |
| LPG, klorin (Cl2), CO2 | Lebih berat | Dekat lantai |
| H2S | Sedikit lebih berat | Rendah, dekat sumber dan zona napas pekerja |
| CO | Hampir sama | Setinggi zona napas |
Hindari memasang sensor tepat di depan kipas, di atas sumber panas, atau di tempat yang terkena percikan air. Ventilasi dan arah angin juga mengubah sebaran gas, jadi amati pola aliran udara sebelum menentukan titik.
5. Hitung jumlah titik dan pilih controller
Satu fixed detector hanya memantau area terbatas di sekitarnya. Setelah jumlah titik diketahui, pilih controller dengan jumlah channel yang cukup dan sisakan cadangan untuk perluasan. Pilihannya antara lain Bosean BH-50 2 dan 4 channel, Bosean S-8000 16 channel, dan Bosean KZ103 32 channel. Pastikan jenis sinyal detektor, misalnya 4-20mA atau RS485, didukung oleh controller.
6. Rencanakan kalibrasi dan penggantian sensor
Sensor mengalami penurunan sensitivitas seiring waktu. Sensor elektrokimia umumnya perlu diganti setelah beberapa tahun, tergantung jenis gas dan kondisi lingkungan. Jadwalkan uji dengan gas kalibrasi secara berkala sesuai rekomendasi pabrikan dan catat hasilnya. Gas detector yang tidak pernah dikalibrasi bisa tampak menyala normal padahal tidak lagi bereaksi terhadap gas.
Ringkasan
- Data semua gas yang mungkin muncul di area kerja.
- Pilih portable untuk pekerja yang berkeliling, fixed untuk titik rawan bocor.
- Sesuaikan rentang ukur dan ambang alarm dengan NAB dan prosedur K3.
- Pasang sensor di ketinggian yang sesuai berat jenis gas.
- Siapkan controller, jadwal kalibrasi, dan anggaran penggantian sensor.
Pilihan gas detector portable, fixed, dan controller ada di kategori gas detector. Untuk bantuan memilih sensor per titik, kirim denah dan daftar gas melalui halaman minta penawaran.
Bacaan Lainnya
Artikel Terkait
Moro Jaya
20/09/26
Butuh Penawaran Harga Terbaik?
Tim sales kami siap membantu Anda mendapatkan produk original dengan harga kompetitif dan pengiriman cepat ke seluruh Indonesia.
